Senin, 22 April 2013

MEDIA PADAT DALAM HIDROPONIK



BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Media tanam adalah media yang dapat digunakan untuk menumbuhkan suatu tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dalam media, media ini tentunya membutuhkan unsur-unsur untuk membuat tanaman yang ditanami dapat tumbuh dan berkembang. Tanaman mendapatkan makanan dengan cara menyerap unsur-unsur hara dan mineral melalui akar yang nantinnya unsur-unsur ini akan digunakan dalam proses fotosintesis, dari proses inilah akan didapatkan fotosintat sebagai hasil yang akan disebarkan kebagian yang membutuhkan sebagai makanannya.
Saat ini telah dikenal sistem Hidroponik untuk cara bercocok tanam yang baru, sistem Hidroponik ini tidak menggunakan tanah sebagai medaia tanamnya. Media – media yang biasanya digunakan dalam  sistem hidroponik ini biasanya berupa  krikil, sabut kelapa, pasir, pecahan batu karang, arang sekam, potongan kayu dan busa. Sistem Hidroponik ini merupakan teknologi bercocok tanam, yang menggunakan air, nutrisi, dan oksigen.
Tanaman yang cocok ditanam melalui teknik Hidroponik ini merupakan tanaman yang musiman, seperti contohnya sayuran. Sayuran kini mulai di kembangkan untuk teknik media tanam melalui teknik Hidroponik ini, misalnya sayuran sejenis Kangkung, Sawi dan Pak coi.
Pada awalnya bertanam secara hidroponik  menggunakan wadah yang hanya berisi air yang telah dicampur dengan pupuk, baik pupuk mikro maupun pupuk makro.Pada perkembangannya, bertanam hidroponik meliputi berbagai cara yaitu bertanam tanpa medium tanah, tidak hanya menggunakan wadah yang hanya diisi air berpupuk saja. Medium pasir, perlite, zeolit, rockwool, sabut kelapa, adalah beberapa bahan yang digunakan oleh para praktisi di dunia dalam bertanam secara hidroponik.Menurut Russel (1977), nitrogen merupakansuatu unsur yang paling banyak dibutuhkandalam hubungannya dengan pertumbuhantanaman. Unsur ini dijumpai dalamjumlah besar pada bagian jaringan tanamanyang muda daripada di jaringan tanaman yangtua, terutama berakumulasi pada bagian daundan biji. Nitrogen merupakan unsur penyusunsetiap sel hidup, karenanya terdapat padaseluruh bagian tanaman dan dibutuhkansepanjang pertumbuhannya. Dengan demikian jumlah nitrogen yang diserap tanaman dari dalam tanah berhubungan langsung dengan bobot basah dan bobot kering tanaman.
Tanaman yang dikembangikan dalam teknik media tanam melalui teknik Hidroponik ini membutuhkan asupan nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembanganya. Pada dasarnya tidak hanya tanaman yang dikembangkan melalui teknik Hidroponik saja yang membutuhkan asupan nutrisi semua tanaman yang hidup membutuhkan asupan nutrisi untuk kelangsungan hidupnya.

1.2  Tujuan
Mahasiswa memahami dan mengerti pemanfaatan media tanam non tanah dalam budidaya secara hidroponik serta mengkaji respon dari media yang ada terhadap pertumbuhan tanaman.

















 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Hidroponik berasal dari bahasa Latin hydros yang berarti air dan phonos yang berarti kerja.Hidroponik arti harfiahnya adalah kerja air. Bertanam secara hidroponik kemudian dikenal dengan bertanam tanpa medium tanah (soilless cultivation, soilless culture).Pada awalnya bertanam secara hidroponik  menggunakan wadah yang hanya berisi air yang telah dicampur dengan pupuk, baik pupuk mikro maupun pupuk makro.Pada perkembangannya, bertanam hidroponik meliputi berbagai cara yaitu bertanam tanpa medium tanah, tidak hanya menggunakan wadah yang hanya diisi air berpupuk saja. Medium pasir, perlite, zeolit, rockwool, sabut kelapa, adalah beberapa bahan yang digunakan oleh para praktisi di dunia dalam bertanam secara hidroponik.Menurut Russel (1977), nitrogen merupakansuatu unsur yang paling banyak dibutuhkandalam hubungannya dengan pertumbuhantanaman. Unsur ini dijumpai dalamjumlah besar pada bagian jaringan tanamanyang muda daripada di jaringan tanaman yangtua, terutama berakumulasi pada bagian daundan biji. Nitrogen merupakan unsur penyusunsetiap sel hidup, karenanya terdapat padaseluruh bagian tanaman dan dibutuhkansepanjang pertumbuhannya. Dengan demikian jumlah nitrogen yang diserap tanaman dari dalam tanah berhubungan langsung dengan bobot basah dan bobot kering tanaman.
Dalam teknik Hidroponik ini mempunyai keunggulan, keunggulan itu diantaranya :
1.    Perawatan lebih praktis dan gangguan hama lebih terkontrol.
2.    Pemakaian pupuk lebih hemat.
3.    Tanaman hidroponik dapat tumbuh lebih pesat dengan keadaan tidak kotor dan tidak rusak.
4.    Beberapa jenis tanaman bisa dibudidayakan di luar musim.
5.    Tanaman hidroponik dilakukan pada lahan atau ruang yang terbatas.

Hidroponik mempunyai metode, metode yang ada dalam sistem Hidroponik ini dibedakan menjadi dua metode, diantaranya :
1) Hidroponik substrat
Metode ini tidak menggunakan air sebagai media, tetapi menggunakan media padat (bukan tanah) yang dapat menyerap atau menyediakan nutrisi, air, dan oksigen serta mendukung akar tanaman seperti halnya fungsi tanah. Media yang dapat digunakan dalam hidroponik substrat antara lain batu apung, pasir, serbuk gergaji, atau gambut. Media tanam sebelum digunakan harus dilakukan sterilisasi dahulu. Cara paling umum dilakukan adalah dengan penguapan atau dengan bahan kimia. Larutan nutrisi atau pupuk diberikan dengan cara disiramkan atau dialirkan melalui sistem irigasi, setiap pemberian larutan nutrisi, harus dapat melembapkan barisan tanaman secara seragam. Banyaknya penyiraman tergantung dari pertumbuhan tanaman, jenis substrat, dan iklim. Permukaan substrat yang kasar dan tidak teratur harus lebih sering disiram.
2) Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique)
Metode ini dilakukan dengan cara meletakkan akar tanaman pada lapisan air yang dangkal. Air tersebut dialirkan dan mengandung nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Perakaran berkembang di dalam larutan nutrien. Larutan nutrien atau zat hara, adalah makanan bagi tanaman yang berupa campuran garam-garam pupuk yang dilarutkan dan diberikan secara teratur. Karena pada sistem hidroponik, media tanam hanya sebagai penopang akar, sehingga garam-garam pupuk harus mengandung semua unsur yang diperlukan tanaman.
Perbedaan paling menonjol antara hidroponik dan budidaya konvensional adalah penyediaan nutrisi tanaman. Pada budidaya konvensional, ketersediaan nutrisi untuk tanaman sangat tergantung pada kemampuan tanah menyediakan unsur-unsur hara dalam jumlah cukup dan lengkap. Unsur-unsur hara itu biasanya berasal dari dekomposisi bahanbahan organik dan anorganik dalam tanah yang terlarut dalam air. Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara dalam tanah umumnya dipenuhi dengan pemupukan tambahan.
Pada budidaya hidroponik, semua kebutuhan nutrisi diupayakan tersedia dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap oleh tanaman. Nutrisi diberikan dalam bentuk larutan yang bahannya dapat berasal dari bahan organik maupun anorganik. Pemberian nutrisi melalui permukaan media tanam atau akar tanaman. Ketersediaan nutrisi dalam bentuk cair dipakai sebagai awal penerapan budidaya   tanaman hidroponik. Bahan kimia yang lazim disebut garam pupuk harus ditimbang atau diukur dengan saksama. Garam pupuk yang berbentuk gumpalan harus dihancurkan dalam bentuk serbuk yang sama lembutnya sebelum dicampurkan dengan yang lain. Hasil campuran itu selanjutnya dapat disimpan kering dalam wadah yang bisa ditutup rapat, kalau Belum dipakai. Garam pupuk itu perlu diukur dan ditimbang dengan perbandingan yang seimbang kalau akan dipakai sebagai sumber nutrisi tanaman hidroponik. Beberapa formula yang telah banyak dikenal untuk keperluan berhidroponik.
Kemampuan tanaman untuk menghasilkan buah sangat tergantung pada interaksi antar pertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungannya. Faktorlain yang menyababkan produksi tanaman rendah adalah penggunaan pupuk yang kurang optimal serta pola tanam yang belum tepat. Upaya untuk menanggulangi kendala tersebut adalah dengan perbaikan tehnik budidaya. Salah satu tehnik budidaya tanaman yang diharapkan dapat meningkatkan hasil dan kualitas tanaman adalah hidroponik. Dengan sistem hidroponik dapat diatur kondisi lingkungannya seperti suhu, kelembapan relatif dan insensitas cahaya, bahkan faktor curah hujan dapat dihilangkan sama sekali dan serangan hama penyakit dapat diperkecil (Ari Wijayani, 2005).
Hidroponik yaitu kegunaan air sebagai dasar pembangunan tubuh tanaman dan berperan dalam proses fisiologi tanaman. Keuntungan yang diperoleh dari hidroponik ini cukup melimpah, diantaranya adalah tanaman menjadi lebih bersih, tidak membutuhkan tempat yang luas, dan lain-lain. Tanaman yang dapat ditanam pada metode ini jenis sayuran, dan buah (Arie, 2006).
Menurut Winarto (2003) bahwa pupukorganik biasanya mengandung cukup lengkap unsur hara yang dibutuhkan tanaman, baik hara makro maupun mikro. Media sekam padi dapat menciptakan kondisi lingkungan tumbuh khususnya sifat fisik dan kima tanah yang lebih baik bagi pertumbuhan tanaman karena lebih cepat mengalami proses pelapukan dan dekomposisi, mengandung unsur hara N, P, K, Cl dan Mg (Thomas, 1995).
Sistem budidaya secara hidroponik merupakan salah satu solusi untuk mengatasi semakin sempitnya lahan untuk bercocok tanam secara konvensional. Hidroponik substrat menggunakan media padat (selain tanah) yang dapat menyerap atau menyediakan nutrisi, air dan oksigen serta mendukung akar tanaman seperti halnya fungsi tanah.Penggunaan media tanam yang tepatakan menentukan pertumbuhan bibit yangditanam. Secara umum media tanam yangdigunakan haruslah mempunyai sifat yang ringan,murah, mudah didapat, gembur dan subur, sehingga memungkinkan pertumbuhan bibit yang optimum (Wijaya et al., 1994).
Dalam bidang pertanian, bioteknologi memberi andil dalam usaha pemenuhan kebutuhan makanan.Beberapa hasil bioteknologi dalam bidang pertanian antara lain kultur jaringan, hidroponik, pembuatan tumbuhan kebal hama, dan tumbuhan yang mampu mengikat nitrogen sendiri. Pada bagian ini kita akan mempelajari teknik tanam dengan sistem hidroponik, karena di antara hasil bioteknologi bidang pertanian, teknik ini paling memungkinkan untuk kita lakukan.













BAB 3. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
            Praktikum Teknik Media Tanam dengan judul acara “Pembuatan Media Cair dan Padat untuk Hidroponik” akan dilaksanakan pada hari kamis tanggal 14 Maret 2013 di Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Larutan nutrisi A, B Mix
2. Pupuk gandasil B
3. Pupuk NPK, Urea, KCL dan SP-36
4. Fungisida dan insektisida
5. Ajir atau penyangga tanaman

3.2.2 Alat
1. Pot plastik
2. Pipa paralon
3. Gelas ukur
4. Cetok atau alat engaduk
5. Sprayer

3.3 Cara kerja
1.    Menanam bibit tomat kedalam media padat dan bibit anaman kangkung pada media NFT yang telah tersedia dengan terlebih dahulu melepaskan atau membuang olibag bibit
2.    Memadatkan media disekitar pangkal bibit dan untuk media NFT diberi penyangga spon pada pangkal bibit
3.    Meniram media dengan air bersih
4.    Melakukan penyiraman nutrisi A B Mix
5.    Melakukan pemupukan dengan NPK, Urea, KCL, dan SP-36
6.    Melakukan perawatan yaitu: membuang tunas air, melakukan pengikatan batang pada ajir, pengendalian OPT
7.    Parameter pangamatan dilakukan setiap minggu terhadap tinggi tanaman, jumlah ruas, jumlah daun, jumlah buah per tanaman, berat buah pertanaman.

DAFTAR PUSTAKA

 

Arie, Indragunawan. 2006. Perancangan Dan Implementasi Sistem Otomatisasi Pemeliharaan Tanaman Hidroponik. Jurnal Tehnik Elektro 8(1): 1-4

 

Siti, Istiqomah. 2008. Menanam Hidroponik. Yogyakarat: Aska Press


Ari, Wijayani. 2005. Usaha Menigkatkan Kualitas Beberapa Varietas Tomat Dengan Sistem Budidaya Hidroponik. Ilmu Pertanian 12(1): 77-83


Pinus, Lingga. 2007. Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Jakarta: Gramedia

 

Haryoto. 2006. Bertanam seledri dengan hidroponik. Jakarta: Grafindo

 

Bambang, Heliyanto. 2010. Pengaruh Media Tanam Dan Frekuensi Pemberian Air Terhadap Sifat Fisik, Kimia, Dan Biologi Tanah Serta Pertumbuhan Jarak Pagar. Jurnal Littri 16(2): 64-69

 

Nina, Rosana. 2011. Tehnik Penggunaan Beberapa Media Tanaman Pada Beberapa Klon Mawar Mini. Buletin Tehnik Pertanian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar